Dalam sejarah panjang turnamen bulu tangkis tertua di dunia, All England Open Badminton Championships, sektor ganda putra selalu menjadi ladang emas bagi Indonesia. Dari total 52 gelar yang telah diraih Merah Putih, 24 di antaranya dipersembahkan oleh pasangan-pasangan ganda putra. Tradisi juara itu dimulai sejak era Christian Hadinata / Ade Chandra pada 1972 dan terus berlanjut hingga generasi modern seperti Fajar Alfian / Muhammad Rian Ardianto yang menjadi juara pada 2024.
Memasuki edisi 2026, pertanyaannya bukan sekedar apakah Indonesia bisa meraih gelar, melainkan seberapa besar peluang ganda putra Indonesia di All England itu jika melihat peta persaingan yang semakin merata. Dengan lima pasangan dikirim ke Birmingham, peluang terbuka lebar, tetapi tantangan juga tidak ringan.
Ringkasan Artikel :
Komposisi Lima Wakil dan Peta Persaingan
Indonesia menurunkan lima pasangan ganda putra di All England 2026:
- Unggulan ke-5: Fajar Alfian / Muhammad Shohibul Fikri
- Unggulan ke-7: Sabar Karyaman Gutama / Moh Reza Pahlevi Isfahani
- Runner Up All England tahun lalu Leo Rolly Carnando / Bagas Maulana
- Pasangan muda naik daun Raymond Indra / Nikolaus Joaquin
- Muhammad Rian Ardianto / Rahmat Hidayat
Dari hasil undian resmi BWF, empat pasangan Indonesia berada di paruh atas bagan undian, sementara Rian/Rahmat menjadi satu-satunya wakil di paruh bawah. Komposisi ini menarik karena membuka peluang “perang saudara” sejak babak awal hingga perempat final.
Secara global, kekuatan ganda putra saat ini relatif merata. Meski pasangan Korea Selatan Kim Won Ho / Seo Seung-jae tengah dominan dan menempati peringkat satu dunia, jarak kualitas dengan pasangan lain tidak terlalu jauh. Artinya, kejutan sangat mungkin terjadi.
Fajar/Fikri: Kombinasi Pengalaman dan Adaptasi Baru
Sebagai unggulan kelima, Fajar/Fikri akan membuka perjuanganya dengan melawan pasangan Malaysia Ong Yew Sin/Teo Ee Yi. Secara pasangan, mereka memang belum pernah bertemu. Namun pengalaman menghadapi pemain yang sama dalam kombinasi berbeda memberi gambaran pola permainan lawan.
Ketika masih berpasangan dengan Muhammad Rian Ardianto, Fajar memiliki catatan 7 – 6 dari 13 pertemuan melawan Ong/Teo, rekor yang relatif berimbang. Sementara Fikri, saat berduet dengan Bagas Maulana, pernah dua kali menang dan sekali kalah dari pasangan Malaysia tersebut.
Artinya, meski komposisi pasangan berubah, pengetahuan taktis sudah dimiliki. Tantangan terbesar Fajar/Fikri bukan pada aspek teknis, melainkan pada chemistry dan stabilitas permainan. All England adalah turnamen dengan tekanan tinggi. Koordinasi, rotasi dan komunikasi menjadi faktor krusial.
Jika lolos ke babak kedua, potensi pertemuan sesama Indonesia sudah menanti.
Raymond/Joaquin: Generasi Muda yang Tak Bisa Diremehkan
Raymond Indra/Nikolaus Joaquin menghadapi Kang Min Hyuk/Ki Dong Ju dari Korea Selatan di babak pertama. Mereka memiliki modal positif karena unggul 1-0 dalam rekor pertemuan, yakni kemenangan di Korea Masters tahun lalu.
Apabila Raymond/Joaquin dan Fajar/Fikri sama-sama menang, duel sesama Merah Putih di babak kedua tak terhindarkan. Dari sisi head-to-head, Raymond/Joaquin bahkan unggul 2-0 atas Fajar/Fikri, yakni kemenangan di final Australia Open 2025 dan perempat final Indonesia Masters 2026.
Secara performa, pasangan muda ini sedang dalam tren menanjak. Kecepatan dan keberanian dalam reli panjang menjadi kekuatan utama. Namun pengalaman di panggung besar seperti All England akan diuji. Konsistensi menjadi kata kunci.
Leo/Bagas: Antara Reputasi dan Inkonsistensi
Sebagai runner-up All England musim lalu, ekspektasi terhadap Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana cukup tinggi. Mereka akan menghadapi Lee Jhe Huei/Yang Po Hsuan dari Chinese Taipei di laga pembuka.
Secara statistik, Leo/Bagas unggul 3-0 dalam tiga pertemuan sebelumnya. Ini menjadi modal psikologis yang penting. Namun tantangan sebenarnya ada pada konsistensi permainan. Dalam beberapa turnamen terakhir, performa mereka cenderung naik-turun.
Jika lolos, babak kedua berpotensi menghadirkan lawan berat yakni Liang Wei Keng/Wang Chang dari China atau pasangan Jepang Takumi Nomura/Yuichi Shimogami. Di sinilah kualitas mental dan kesiapan taktik diuji.
Untuk berbicara banyak hingga semifinal, Leo/Bagas harus mampu menjaga stabilitas dari game ke game, sesuatu yang kerap menjadi titik lemah mereka dalam satu tahun terakhir.
Sabar/Reza: Jalur Berat Menuju Menantang Unggulan Pertama
Unggulan ketujuh Sabar/Reza memulai langkah melawan kakak-beradik asal Prancis Christo Popov/Toma Junior Popov. Dari rekor pertemuan, Sabar/Reza unggul 1-0 dan secara kualitas permainan juga di atas kertas lebih difavoritkan.
Namun jalan mereka tak mudah. Di babak kedua, potensi lawan seperti Takuro Hoki/Yugo Kobayashi dari Jepang atau Chen Zhi Yi/Lin Yu Chieh dari Chinese Taipei sudah menunggu.
Jika berhasil menembus perempat final, kemungkinan besar mereka akan berhadapan dengan unggulan pertama Kim/Seo. Jalur ini jelas berat. Selain harus mengatasi tekanan sebagai unggulan, mereka juga harus menaklukkan pasangan dengan intensitas serangan dan pertahanan yang begitu kuat.
Meski begitu, Sabar/Reza dikenal sebagai pasangan dengan daya juang tinggi dan variasi serangan cepat. Jika mampu menjaga fokus dan meminimalkan unforced error, peluang membuat kejutan tetap ada.
Rian/Rahmat: Sendiri di Paruh Bawah yang Penuh Ranjau
Muhammad Rian Ardianto/Rahmat Hidayat menjadi satu-satunya wakil Indonesia di paruh bawah. Mereka akan menghadapi Liu Kuang Heng/Yang Po Han dari Chinese Taipei di laga pembuka.
Paruh bawah bisa disebut sebagai “ladang Malaysia” karena terdapat enam pasangan dari negara tersebut, termasuk unggulan kedua Aaron Chia/Soh Wooi Yik, Man Wei Chong/Kai Wun Tee, serta Goh Sze Fei/Nur Izzudin. Selain itu, ada pula unggulan keempat asal India Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty.
Dengan komposisi seperti ini, setiap pertandingan di paruh bawah berpotensi menjadi laga keras tiga gim. Bagi Rian/Rahmat, tantangan terbesar adalah membangun chemistry yang masih relatif baru sekaligus menjaga ketahanan fisik menghadapi duel panjang.
Namun sisi positifnya, berada sendirian di paruh bawah membuka peluang Indonesia memastikan minimal satu wakil di semifinal jika Rian/Rahmat mampu melaju jauh.
Analisis Peluang Ganda Putra Indonesia di All England: Seberapa Realistis Gelar ke-25?
Secara kuantitas, lima pasangan adalah modal besar. Namun kuantitas tidak otomatis menjamin kualitas hasil akhir. J
ika melihat distribusi bagan, potensi eliminasi sesama Indonesia di paruh atas cukup besar.
Kunci keberhasilan Indonesia di All England 2026 terletak pada tiga aspek:
- Konsistensi permainan – terutama bagi pasangan yang kerap tampil fluktuatif.
- Manajemen stamina – jadwal padat dan lawan berat berpotensi rubber game menuntut fisik prima.
- Mental bertanding di laga besar – All England bukan sekadar turnamen biasa, atmosfer dan tekanannya berbeda.
Dominasi Kim/Seo memang menjadi bayangan besar, tetapi bukan berarti tak tergoyahkan. Sejarah menunjukkan bahwa All England kerap menghadirkan kejutan, terutama di sektor ganda putra yang sangat dinamis.
Jika salah satu dari Fajar/Fikri, Leo/Bagas, atau Sabar/Reza mampu menjaga performa stabil hingga semifinal, peluang merebut gelar ke-25 Indonesia di sektor ini tetap terbuka. Sementara itu, jika Raymond/Joaquin atau Rian/Rahmat mampu menciptakan momentum, skenario kejutan bisa saja terjadi.
All England 2026 akan menjadi ujian penting bagi regenerasi dan kedalaman skuad ganda putra Indonesia. Tradisi panjang sudah terbentuk. Kini, tantangannya adalah mempertahankan reputasi tersebut di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Photo: PBSI


Tinggalkan Balasan